Kolintang Minahasa: Merawat Bunyi, Menghidupkan Warisan

SENI · MINAHASA · BACAAN TERBUKA

Di balik bunyi bilah kayunya, kolintang mempertemukan keterampilan membuat instrumen, kecakapan bermain, dan ruang perjumpaan antargenerasi.

Kolintang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Alat musik ini menghasilkan bunyi melalui bilah-bilah kayu yang dipukul, dengan kotak resonator membantu memperkuat suaranya. Dalam sebuah ansambel, instrumen dengan rentang nada berbeda saling mengisi sehingga permainan menuntut perhatian pada keseluruhan kelompok.

Pengakuan dunia, tanggung jawab bersama

Pada 5 Desember 2024, kolintang memperoleh pengakuan UNESCO bersama balafon dari Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading. PINKAN Indonesia mencatat pengumuman tersebut berlangsung dalam sidang Komite Antarpemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda di Paraguay.

Pencatatan itu patut dibaca sebagai kesempatan memperluas perhatian kepada para pelaku. Di tingkat lokal, keberlanjutan seni membutuhkan ruang latihan, kesempatan tampil, serta hubungan yang terjaga antara pemain, perajin, dan orang-orang yang ingin belajar.

Mendengar sekaligus mengenali pembuatnya

Kementerian Pariwisata menjelaskan bahwa pemilihan, pemotongan, dan penyetelan bilah kayu merupakan bagian dari keterampilan membuat kolintang. Karena itu, memperkenalkan kolintang kepada pembaca sebaiknya tidak berhenti pada nama instrumen atau panggung pertunjukan: proses pembuatannya juga layak didokumentasikan.

Bagi pengunjung Pustaka Minahasa, langkah awal yang sederhana ialah mendengarkan permainan secara utuh, mengenali pembagian peran pemain, dan mencatat nama kelompok maupun perajin ketika membagikan dokumentasi. Dengan cara itu, apresiasi dapat berjalan beriringan dengan penghormatan kepada komunitas yang merawatnya.

Sumber dan bacaan lanjutan

Artikel pengantar disusun dari rujukan di atas; saran apresiasi merupakan pandangan editorial. Diakses 29 Oktober 2026.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *