Musik Kolintang adalah ansambel perkusi bilah kayu bernada asal Minahasa yang kini menjadi salah satu identitas kebudayaan Sulawesi Utara.
Jika bambu melahirkan orkes tiup, kekayaan hutan pegunungan Minahasa melahirkan Kolintang. Dari alat pengiring ritual dan nyanyian adat, Kolintang berkembang menjadi orkes modern yang dapat memainkan lagu daerah, tembang populer, hingga karya klasik.
1. Asal-Usul Nama Kolintang
Nama Kolintang dijelaskan berasal dari tiruan bunyi bilah kayu saat dipukul: tong untuk nada rendah, ting untuk nada tinggi, dan tang untuk nada tengah. Dari bunyi itu lahir ajakan dalam bahasa daerah, Maimo kumolintang, “mari bermain tong-ting-tang” (Wenas, 2007).
Pada masa lampau, Kolintang digunakan untuk mengiringi ritual pemujaan leluhur dan nyanyian adat, sebelum kemudian menjadi musik hiburan dan pengiring ibadah.
2. Bahan Pembuatan Musik Kolintang
Bilah Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan namun padat dan beresonansi tinggi. Jenis yang sering disebut antara lain:
- Kayu cempaka (Elmerrillia ovalis)
- Kayu waru
- Kayu telur (Alstonia scholaris)
Bilah-bilah disusun di atas rak kayu bertingkat yang sekaligus berfungsi sebagai kotak resonansi. Pemain memukulnya dengan dua atau tiga pemukul berbalut karet, sehingga dapat membunyikan akor sekaligus melodi.
3. Susunan Ensambel Kolintang
Setelah ditata ulang ke tangga nada diatonis pada sekitar 1940–1950-an, Kolintang berkembang menjadi ensambel beberapa instrumen dengan peran berbeda:
| Peran | Nama daerah |
|---|---|
| Melodi | Ina, Taweng, Wangko |
| Selo | Sella |
| Tenor | Karua |
| Alto | Uner |
| Ukulele | Katelu |
| Gitar | Katimbung |
| Bas | Loway |
Penamaan dapat berbeda antara satu sanggar dan sanggar lain, sehingga tabel ini sebaiknya dibaca sebagai gambaran umum.
4. Musik Kolintang di Era Modern
Kini musik Kolintang dimainkan di sekolah, gereja, acara pemerintahan, hingga panggung internasional. Kemampuannya memainkan berbagai genre membuat Kolintang mudah diterima pendengar baru, sementara bahan dan cara pembuatannya tetap menyimpan pengetahuan tradisional tentang kayu dan bunyi.
Baca juga: Musik Bambu Minahasa dan Kesenian Tradisional Minahasa.
Daftar Pustaka
- Taulu, H.M. (1956). Kesenian Rakjat Minahasa. Manado: Kantor Kebudayaan Propinsi Sulawesi.
- Wenas, J. (2007). Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.


Pingback:Musik Bambu Minahasa: Instrumen dan Sejarahnya