L.N. Palar: Dari Rurukan Membawa Suara Indonesia ke Dunia

Pada 28 September 1950, Indonesia diterima sebagai anggota ke-60 Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di antara tokoh yang mengawal perjuangan diplomasi republik muda itu adalah L.N. Palar (Lambertus Nicodemus Palar), putra Minahasa yang membawa suara Indonesia ke forum internasional. [1]

Perjalanan Palar memperlihatkan bagaimana pendidikan dan keberanian mengambil sikap dapat membuka jalan pengabdian yang melampaui tempat kelahiran.

L.N. Palar: Berangkat dari Rurukan

Palar lahir di Rurukan, Minahasa, pada 5 Juni 1900. Menurut inventaris Arsip Nasional Republik Indonesia, ia menempuh pendidikan MULO di Tondano sebelum melanjutkan sekolah ke Yogyakarta. Dalam masa pendidikannya di Jawa, ia tinggal bersama Sam Ratulangi dan bersentuhan dengan pembicaraan tentang kolonialisme serta kemerdekaan.

Pada 1928, Palar berangkat ke Belanda. Di sana, ia terlibat dalam gerakan sosial demokrat dan kemudian menjadi anggota parlemen Belanda. Ketika Belanda melancarkan agresi militer terhadap Indonesia pada 1947, ia mengundurkan diri dari parlemen dan Partai Buruh. Ia menyatakan kesediaannya bekerja untuk kemerdekaan Indonesia. [2]

Peran L.N. Palar Memperjuangkan Indonesia di PBB

Palar kemudian bergabung dengan perjuangan diplomasi Indonesia di PBB. Setelah Sutan Sjahrir dan Agus Salim meninggalkan Lake Success, ia dipercaya memimpin utusan Indonesia.

Tugas ini menuntut kemampuan menjelaskan kedudukan republik kepada dunia dan membangun dukungan antarnegara. Indonesia sedang memperjuangkan kelangsungan kemerdekaannya, sementara forum internasional menjadi salah satu tempat penting untuk menyampaikan sikap republik. [2]

Surat yang Menandai Langkah Bersejarah

Jejak kerja Palar tersimpan dalam dokumen PBB bertanggal 25 September 1950. Sebagai pengamat tetap Indonesia, ia mengirimkan surat permohonan keanggotaan kepada Sekretaris Jenderal. Surat itu disertai pernyataan bahwa Indonesia menerima kewajiban dalam Piagam PBB. [3]

Tiga hari kemudian, Majelis Umum menyetujui penerimaan Indonesia dengan suara bulat. Palar tampil di mimbar untuk mewakili negaranya. Dalam tanggapannya, ia menyampaikan terima kasih atas dukungan negara-negara sahabat, termasuk India dan Australia.

Peristiwa tersebut merupakan hasil perjuangan bersama banyak pihak. Kehadiran Palar di mimbar memperlihatkan perannya dalam menghubungkan perjuangan Indonesia dengan dukungan masyarakat internasional. [4]

Mengingat Palar dari Minahasa

Bagi pembaca di Minahasa, perjalanan Palar menghubungkan Rurukan dengan sejarah diplomasi dunia. Kisahnya membuka ruang untuk memahami perjuangan kemerdekaan melalui perundingan, surat resmi, dan kemampuan memperoleh kepercayaan bangsa lain.

Mengenang Palar juga berarti merawat dokumen yang menjelaskan pekerjaannya. Melalui arsip, kita dapat mengenalnya lebih dekat: sebagai seseorang yang mengambil keputusan politik, menjalankan tanggung jawab, dan ikut memperjuangkan tempat Indonesia dalam pergaulan dunia.

Sumber dan bacaan

  1. PBB di Indonesia — The United Nations in Indonesia, bagian Milestones.
  2. Sutopo. Inventaris Arsip Lambertus Nicodemus Palar 1928–1981. Jakarta: Arsip Nasional RI, 1995, pendahuluan, hlm. iv–viii.
  3. PBB. Surat L.N. Palar kepada Sekretaris Jenderal, 25 September 1950, dokumen S/1809.
  4. Yearbook of the United Nations 1950, “Admission of Indonesia”, hlm. 414.
  5. Bodewyn Grey Talumewo. “Peranan Tou Minahasa: Profil Singkat Para Pejuang Kemerdekaan”, 20 Oktober 2008. Bacaan awal; artikel ini ditulis ulang dengan merujuk arsip ANRI dan dokumen PBB di atas.

Kredit foto unggulan: L.N. Palar, 19 Februari 1946. Charles Breijer / Anefo, Nationaal Archief, koleksi 901-4777, melalui Wikimedia Commons. Lisensi CC BY-SA 3.0 NL. Berkas potret digunakan tanpa penyuntingan tambahan.

2 Comments

  1. Pingback:A.A. Maramis dan Lahirnya ORI | Pustaka Minahasa

  2. Pingback:Robert Wolter Monginsidi: Pemuda Malalayang dalam Perjuangan Kemerdekaan di Makassar - Pustaka Minahasa

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *