Bulan Bahasa Sultra 2026: Wagub Hugua Ajak Keluarga Biasakan Bahasa Ibu

PUSTAKAMINAHASA.ID — Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi panggung puncak Bulan Bahasa Sultra 2026 pada Senin (26/10/2026). Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar acara itu di Lippo Plaza Kendari. Wakil Gubernur Sultra Hugua hadir dan mengajak keluarga membiasakan bahasa ibu di rumah.

Ilustrasi Bulan Bahasa Sultra: potret kelompok bersama utusan Buton, Sulawesi Tenggara, foto arsip Tropenmuseum
Ilustrasi — Potret kelompok bersama utusan Buton, Sulawesi Tenggara. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra di provinsi itu berlangsung sejak 1 Oktober 2026. Tahun ini, Balai Bahasa mengusung tema “Trigatra Bangun Bahasa”. Tema tersebut memuat tiga pesan, yakni utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Rangkaian Puncak Bulan Bahasa Sultra

Acara puncak Bulan Bahasa Sultra berisi beragam kegiatan. Pertama, penulis Maman Suherman mengisi sesi gelar wicara tentang literasi. Kedua, panitia mengumumkan para pemenang lomba sepanjang Oktober.

Lomba itu mencakup baca puisi untuk guru dan pidato berbahasa Indonesia bagi mahasiswa asing. Selain itu, Balai Bahasa menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu untuk anak-anak. Pelajar SMAN 1 Kendari dan SMAN 2 Konawe Selatan juga menampilkan musikalisasi puisi yang berprestasi di tingkat nasional.

Balai Bahasa turut meluncurkan sejumlah produk kebahasaan bersama mitra. Bahkan, panitia memberi penghargaan kepada karyawan perusahaan asing yang tekun belajar bahasa Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa Bulan Bahasa Sultra merangkul penutur dari berbagai latar, mulai dari anak-anak hingga warga asing.

Pesan Wagub di Bulan Bahasa Sultra: Biasakan Bahasa Ibu

Dalam sambutannya, Hugua menyoroti kemampuan berbahasa daerah anak-anak di perkotaan. Menurutnya, banyak anak memahami bahasa daerah, tetapi tidak mampu menuturkannya. “Rata-rata sekarang mereka mengerti, tetapi tidak bisa berbahasa ibu,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA.

Oleh karena itu, ia meminta orang tua menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pertama anak. Ia menilai pelestarian bahasa tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah atau sekolah. Keluarga, menurutnya, memegang peran kunci dalam pewarisan identitas budaya.

Hugua juga mendukung muatan lokal bahasa daerah di sekolah. Lebih lanjut, ia mengusulkan agar pembelajaran serupa menjangkau perguruan tinggi. Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Sultra Dewi Pridayanti menegaskan bahwa bahasa daerah menjaga akal dan identitas penuturnya.

Selain itu, acara tersebut juga menyoroti tantangan di lapangan. Saat ini, masih sedikit guru bahasa daerah yang memiliki latar pendidikan khusus. Karena itu, pemerintah daerah dan kampus perlu bekerja sama, termasuk lewat program studi bahasa daerah dan dukungan regulasi.

Relevansi bagi Minahasa dan Sulawesi Utara

Keprihatinan dalam Bulan Bahasa Sultra juga patut menjadi perhatian di Sulawesi Utara. Di tengah kuatnya bahasa Indonesia dan Melayu Manado, bahasa-bahasa daerah Minahasa membutuhkan lebih banyak penutur muda. Adapun Minahasa memiliki ragam bahasa seperti Tombulu, Tondano, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ratahan, Bantik, dan Ponosakan. Setiap bahasa itu menyimpan pengetahuan, nama tempat, dan cerita leluhur yang khas.

Langkah dokumentasi sebenarnya sudah berjalan. Misalnya, Balai Bahasa Sulut baru saja memverifikasi kamus dwibahasa Indonesia–Tombulu. Namun, kamus saja tidak cukup tanpa pemakaian sehari-hari di rumah.

Sebagai langkah awal, pembaca dapat mengenal kosakata daerah melalui Kamus Bahasa Daerah dan halaman Bahasa di Pustaka Minahasa. Dengan begitu, pesan dari Kendari dapat menjadi pengingat bagi keluarga Minahasa untuk kembali bertutur dalam bahasa ibu.

Dilansir dari ANTARA dan sumber lainnya.

Foto: Ilustrasi — Potret kelompok bersama utusan Buton, Sulawesi Tenggara, foto arsip masa kolonial. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *