Fam Lumowa, menurut tradisi lisan Wanua Pangolombian di Kecamatan Remboken, berasal dari gelar yang diberikan kepada Tonaas Pandelaki setelah ia memenangi lomba menangkap ikan untuk memilih pemimpin kampung.
Banyak desa dan nama marga di Minahasa lahir dari perpindahan kelompok yang mencari sumber penghidupan baru, serta dari tradisi memilih pemimpin berdasarkan kecakapan. Kisah Pangolombian dan fam Lumowa adalah salah satu contohnya.
1. Migrasi dari Tomohon ke Tepian Remboken
Menurut tuturan setempat, cikal bakal Pangolombian bermula sekitar pertengahan abad ke-18. Ketika itu sejumlah keluarga dari wilayah Tombulu, yakni dari Wanua Kamasi dan Walian di Tomohon, berpindah ke arah timur menuju kawasan Remboken di tepi Danau Tondano.
Tujuan perpindahan ini adalah membuka kebun yang subur sekaligus mencari pangan dari danau, terutama kerang air tawar yang dalam bahasa setempat disebut kolombi. Melimpahnya kolombi di perairan sekitar permukiman baru itu melahirkan nama Pangolombian, yang dimaknai sebagai “tempat mencari kolombi”.
2. Lomba Menangkap Ikan dan Lahirnya Fam Lumowa
Seiring bertambahnya penduduk, warga Pangolombian sepakat memilih pemimpin untuk mengatur kehidupan bersama. Menariknya, pemimpin tidak dipilih berdasarkan keturunan, tetapi melalui adu kecakapan menangkap ikan. Ini mencerminkan cara pandang Minahasa yang menghargai kemampuan, sebagaimana dibahas dalam artikel Struktur Sosial Minahasa.
Empat tonaas maju dalam lomba tersebut:
- Tonaas Wuyok
- Tonaas Wola
- Tonaas Polosakan
- Tonaas Pandelaki
Tonaas Pandelaki keluar sebagai pemenang berkat kecerdikan dan keterampilannya. Masyarakat lalu memberinya gelar Pandelaki Lumowa. Menurut tafsiran yang beredar di masyarakat, lumowa dimaknai “melampaui atau lebih unggul dari yang lain”. Gelar inilah yang diwariskan kepada anak cucunya sebagai fam Lumowa.
3. Tonaas Pandelaki sebagai Leluhur Fam Lumowa
Dalam tuturan keluarga, Tonaas Pandelaki Lumowa dihormati sebagai tu’ur, leluhur pangkal keluarga besar Lumowa. Ia juga dikenang sebagai Hukum Tua pertama Pangolombian, dengan masa kepemimpinan yang dituturkan berlangsung sekitar 1830 hingga 1880.
Rentang waktu antara perpindahan pertengahan abad ke-18 dan masa jabatan ini cukup panjang. Hal ini wajar dalam tradisi lisan, karena ingatan beberapa generasi sering menyatu dalam satu kisah. Catatan gereja, arsip distrik, atau silsilah keluarga dapat membantu memastikan urutan waktunya.
4. Nilai dari Kisah Pangolombian
Kisah ini mengajarkan dua hal. Pertama, nama tempat di Minahasa sering merekam hubungan erat masyarakat dengan alamnya, seperti kerang kolombi di Danau Tondano. Kedua, kepemimpinan dihargai karena kecakapan dan kerja nyata, bukan semata keturunan.
Kisah serupa tentang asal nama tempat dapat dibaca di artikel Asal-Usul Nama Tempat di Minahasa.
Baca juga: Peta Persebaran Sub-Etnis Minahasa.
Disarikan dari tradisi lisan Wanua Pangolombian, Remboken.

