Lingkanbene dan Kastela di Wenang: Akar Sejarah Komunitas Sarani dan Kaum Borgo Manado

Kaum Borgo Manado adalah komunitas pesisir keturunan perkawinan penduduk setempat dengan pendatang Eropa, terutama Spanyol dan Portugis. Akar sejarahnya dituturkan dalam hikayat tentang keturunan Lingkanbene dan orang Kastela di Wenang.

Manado pada masa lampau dikenal dengan nama Wenang. Wajahnya yang kosmopolitan berakar dari perjumpaan penduduk Minahasa dengan pelaut dan serdadu Spanyol, yang dalam lidah setempat disebut Kastela, pada abad ke-17. Kisah ini terekam dalam hikayat berbahasa Melayu yang dihimpun J.G.F. Riedel pada 1862, berjudul Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… Hikajatnja Tuwah Tanah Minahasa.

1. Keturunan Lingkanbene Turun ke Pesisir Wenang

Menurut hikayat yang dihimpun Riedel, kelompok keturunan Lingkanbene turun dari pegunungan menuju pesisir Wenang. Tertarik dengan kehadiran orang Kastela yang berlabuh di teluk, mereka memilih jalan persahabatan.

Hubungan dagang dan pertahanan itu berkembang menjadi hubungan keluarga. Sejumlah perempuan dari kelompok Lingkanbene menikah dengan perwira dan serdadu Kastela, lalu memeluk agama Katolik yang dibawa misi Spanyol.

2. Klaim Kolano dan Penolakan Tombulu

Hikayat itu menuturkan bahwa persekutuan ini kemudian merambah ke politik. Seorang perempuan dari garis Lingkanbene mendorong suaminya, seorang pemimpin Kastela, agar putra mereka, Muntu-untu, dinobatkan sebagai Kolano atau raja tunggal. Sumber lain juga mengenang Muntu-untu sebagai raja pertama Manado yang berdarah campuran Spanyol.

Klaim raja tunggal ini ditolak keras oleh Pakasa’an Tombulu, kekuatan utama di dataran tinggi yang memegang prinsip pemerintahan bersama tanpa raja. Menurut hikayat, penolakan itu memicu perang bertahun-tahun yang menelan banyak korban di kedua pihak. Penolakan terhadap raja ini sejalan dengan nilai yang dikisahkan dalam musyawarah Watu Pinawetengan.

3. Lahirnya Komunitas Pesisir: Sarani dan Negeri Baru

Terdesak oleh pasukan pedalaman, kelompok Lingkanbene bersama sekutu Kastela bertahan di pesisir Wenang. Dari permukiman pesisir yang terpisah dari induknya di pegunungan inilah lahir komunitas campuran baru. Hikayat menyebut beberapa nama untuk komunitas ini, antara lain:

  • Bangsa Mawuring
  • Bangsa Sarani, yang merujuk pada identitas Nasrani
  • Orang Negeri Baru

4. Dari Wenang ke Borgo Manado

Komunitas pesisir yang memadukan darah Minahasa dan Eropa ini berlanjut hingga masa VOC. Kelak keturunan perkawinan penduduk setempat dengan orang Portugis dan Spanyol, dan kemudian juga Belanda, dikenal sebagai Borgo. Istilah ini berasal dari kata Belanda burger, warga kota. Kaum Borgo Manado ikut mewarnai budaya pesisir Manado, termasuk bahasa Melayu Manado yang menyerap banyak kosakata Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Seperti hikayat lain, kisah Lingkanbene dan Kastela merupakan tradisi yang dituliskan. Rinciannya sebaiknya dibaca bersama arsip Spanyol dan VOC tentang Manado abad ke-17.

Baca juga: Sejarah Politik Minahasa: Kontrak VOC 1679 dan Peta Persebaran Sub-Etnis Minahasa.

Rujukan

  1. Riedel, J.G.F. (1862). Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… Hikajatnja Tuwah Tanah Minahasa. Batavia.
  2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara, Bab 4.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *