Paparangan Parepej: Sengketa Seekor Babi Buruan yang Memicu Perang Negeri Parepej dan Lingkongkong

Paparangan Parepej adalah kisah perang antara Negeri Parepej di wilayah Remboken dan Negeri Lingkongkong di wilayah Tomohon, yang dicatat J.G.F. Riedel dalam hikayat Minahasa terbitan 1862.

Dalam masyarakat Minahasa sebelum masa kolonial, perang antarkampung tidak selalu dipicu perebutan wilayah yang luas. Perkara yang tampak kecil bisa berubah menjadi pertumpahan darah bila menyangkut kehormatan. Kisah ini termuat dalam bab “Paparangan Parepej” pada buku Riedel, Hikajatnja Tuwah Tanah Minahasa.

1. Sengketa Babi Buruan antara Malondah dan Tumelung

Menurut hikayat, pertikaian bermula dari dua pemuda pemburu, Malondah dan Tumelung. Riedel mencatat akarnya sebagai perkara perampasan babi buruan, yaitu sengketa tentang siapa yang berhak atas seekor babi hutan hasil berburu.

Bagi masyarakat pemburu dan petani Minahasa masa lampau, hasil buruan bukan sekadar daging. Ia adalah tanda ketangkasan, keberanian, dan martabat seorang laki-laki. Tuduhan merampas hasil buruan dianggap penghinaan berat.

2. Dua Negeri Terseret dalam Paparangan Parepej

Karena kuatnya ikatan kampung, pertikaian dua orang itu cepat menyeret komunitas masing-masing:

  • Negeri Parepej, permukiman di wilayah adat Remboken.
  • Negeri Lingkongkong, permukiman tua di wilayah adat Tomohon.

Kedua pihak mengerahkan para ksatria terbaiknya dan bertempur di jalur hutan perbatasan antara Tomohon dan Remboken.

3. Gugurnya Malondah

Puncak perang terjadi ketika Malondah gugur di medan laga. Riedel mencatat bahwa kepala Malondah kemudian dibawa pulang oleh orang-orang Lingkongkong. Catatan ini menjadi salah satu bukti tertulis tentang praktik pengayauan dalam perang adat masa lampau, ketika membawa pulang kepala lawan dianggap memulihkan kehormatan kampung.

Praktik semacam ini sudah lama ditinggalkan. Kisahnya kini dibaca sebagai bagian dari sejarah, untuk memahami betapa kuatnya nilai kehormatan dan ikatan kampung pada masa itu.

4. Satu Nama, Dua Kisah

Nama Parepej juga muncul dalam legenda lain, yaitu kisah raksasa Parepej dari Remboken yang dikalahkan Tumalun dari Tomohon dengan kecerdikan. Kedua kisah sama-sama berlatar perselisihan Remboken dan Tomohon, tetapi tokoh dan jalannya berbeda. Perbedaan versi seperti ini lazim dalam tradisi lisan dan menarik untuk dibandingkan. Baca: Legenda Parepej dan Tumalun.

Baca juga: Kisah Dotu Resik dan Tapal Batas Langowan dan Tari Kabasaran.

Rujukan

  1. Riedel, J.G.F. (1862). Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… Hikajatnja Tuwah Tanah Minahasa, bab “Paparangan Parepej”. Batavia.

One Comment

  1. Pingback:Kisah Kinilow dan Tompaso: Perempuan di Garis Depan

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *