PUSTAKAMINAHASA.ID — Di Tompaso, Kabupaten Minahasa, terbaring sebuah batu besar yang permukaannya penuh goresan: gambar manusia, garis-garis, dan simbol yang hingga kini belum terbaca tuntas. Batu itu adalah Watu Pinawetengan, dan goresan-goresannya sering disebut sebagai jejak aksara Malesung, tulisan orang Minahasa kuno. Malesung sendiri adalah nama lama tanah Minahasa sebelum nama “Minahasa” dipakai.
Artikel ini merangkum apa yang diketahui tentang aksara Malesung, mengapa keberadaannya masih diperdebatkan, dan bagaimana aksara ini dihidupkan kembali sebagai font yang bisa Anda coba langsung di Pustaka Minahasa.
Jejak di batu: Pinawetengan, Rerumeran, dan Watu Tiwa
Goresan yang dikaitkan dengan aksara Malesung ditemukan pada beberapa batu di Minahasa, terutama Watu Pinawetengan, Watu Rerumeran, dan Watu Tiwa. Watu Pinawetengan sendiri ditemukan kembali pada 19 Juni 1888 setelah lama terkubur. Penggaliannya dibiayai oleh pendeta dan peneliti J.A.T. Schwarz, yang berpegang pada hikayat yang dituturkan masyarakat. Penelitian berikutnya dilanjutkan antara lain oleh H.M. Taulu, kemudian oleh budayawan Paulus Lumoindong dan David D.S. Lumoindong.
Pada Watu Pinawetengan terlihat gambar figur manusia, simbol kelamin laki-laki dan perempuan, motif daun, serta garis-garis abstrak. Sebagian warga memaknainya sebagai peta wilayah Minahasa yang dibagi di batu ini. Tradisi lisan menyebut batu ini sebagai tempat para leluhur bermusyawarah membagi wilayah dan bahasa (baca juga Sejarah Minahasa).
Aksara atau gambar? Sebuah perdebatan
Pendapat tentang aksara Malesung belum seragam, dan pembaca sebaiknya mengetahui kedua sisinya:
- Pandangan pendukung. Menurut almarhum Paulus Lumoindong, aksara Malesung (disebut juga aksara Watugirot) serumpun dengan aksara-aksara Filipina. Aksara ini dipahatkan pada batu dengan pahat dan hanya dipakai untuk keputusan penting pemerintahan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Para pendukungnya memperkirakan masa pemakaiannya antara abad ke-2 dan ke-7 Masehi.
- Pandangan yang lebih hati-hati. Goresan di Pinawetengan lebih menyerupai piktogram atau gambar daripada abjad, dan belum ada yang dapat membaca tanda-tandanya satu per satu. Isi yang sering dikaitkan dengan prasasti itu, seperti pernyataan damai dan pembagian wilayah, berasal dari tradisi lisan, bukan dari pembacaan tulisan. Ahli aksara Christopher Miller (2011) mencatat seperangkat huruf yang dikaitkan dengan Malesung oleh Taulu (1980), tetapi menilai keasliannya belum jelas. Daftar sistem tulisan Indonesia di Wikipedia pun memberi status “kontroversial”, yaitu masih diperdebatkan apakah pernah benar-benar dipakai secara historis.
Perdebatan ini justru menunjukkan pentingnya penelitian lanjutan, misalnya dokumentasi goresan secara detail, perbandingan dengan prasasti lain di Nusantara, dan penggalian tradisi lisan para tetua.
Dihidupkan kembali sebagai font
Terlepas dari perdebatan sejarahnya, aksara Malesung kini hidup kembali sebagai identitas budaya. Bentuk-bentuk hurufnya dipakai dalam desain, nama, dan kegiatan budaya Minahasa. Ada beberapa versi font Malesung, antara lain yang dihimpun di repositori Aksara di Nusantara. Pustaka Minahasa kini memakai font malesung karya Arif Budiarto (2019). Font ini bersifat silabik, sejalan dengan gagasan Abadaga (tanda suku kata): satu tanda mewakili satu suku kata, bukan satu huruf.
Font ini bekerja dengan ligatur. Ketika kita mengetik huruf Latin biasa, setiap konsonan yang diikuti vokal (a, i, u, e, o) otomatis berubah menjadi satu tanda suku kata. Kata Minahasa, misalnya, ditulis sebagai empat tanda: mi-na-ha-sa. Vokal yang berdiri sendiri punya tandanya sendiri, begitu pula gabungan ng, ny, dan gh. Konsonan di akhir suku kata, seperti -ng pada Malesung, ditulis dengan bentuk dasarnya.
Font inilah yang dipakai pada alat Coba Aksara Malesung di Pustaka Minahasa. Alat itu melakukan transliterasi suku kata secara otomatis dari tulisan Latin, bukan terjemahan bahasa. Karena ada beberapa versi aksara Malesung dengan bentuk dan aturan yang berbeda, anggaplah hasilnya sebagai satu versi penulisan, bukan satu-satunya bentuk yang baku.
Contoh hasil tulisan
Ditampilkan langsung dengan font malesung karya Arif Budiarto, sama seperti pada alat Coba Aksara Malesung. Setiap tanda mewakili satu suku kata.
Memuat font aksara…
Contoh tanda suku kata
Lima vokal, lalu beberapa konsonan dengan bentuk dasarnya dan gabungannya dengan vokal a, i, u, e, o. Tabel lengkapnya ada di alat Coba Aksara Malesung.
Coba tulis nama Anda
Ketik di bawah. Untuk mengatur ukuran dan warna atau menyimpan hasilnya sebagai gambar PNG, buka alat lengkapnya.
Buka alat Coba Aksara Malesung →Menggunakan aksara Malesung dengan bijak
- Untuk desain, nama, dan kenang-kenangan, alat ini cocok untuk mengenal bentuk aksara dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya Minahasa.
- Untuk publikasi resmi, tato, atau monumen, periksa dulu peta huruf dan pedomannya, lalu konsultasikan dengan pegiat aksara atau budayawan, karena ada beberapa versi font dan cara penulisan.
- Hargai pembuat font. Font malesung adalah karya Arif Budiarto (2019), dan hak ciptanya tetap milik pembuatnya. Cantumkan nama font dan pembuatnya saat memakainya.
Aksara Malesung, terlepas dari perdebatan asal-usulnya, kini menjadi jembatan antara generasi muda dan warisan Minahasa. Setiap orang yang menuliskan namanya dengan aksara ini ikut menjaga ingatan tentang Malesung, tanah para leluhur.
Punya foto goresan batu, dokumen, atau pengetahuan tentang aksara Malesung dari tetua di kampung Anda? Kirimkan ke Pustaka Minahasa agar ikut terarsip.
Dilansir dari Menulis Tradisi, Klikjo, Good News From Indonesia, dan sumber lainnya.
Sumber:
- Menulis Tradisi – Aksara-Aksara Daerah yang Kontroversial di Indonesia
- Klikjo – Malesung si Minahasa Kuno
- D.D.S. Lumoindong – Sejarah Riset Prasasti Pinawetengan
- Good News From Indonesia – Mengungkap Misteri Watu Pinawetengan
- Wikipedia – List of writing systems of Indonesia
- Aksara di Nusantara – Font Malesung

