PUSTAKAMINAHASA.ID — Minahasa adalah wilayah dan sekaligus nama suku bangsa di bagian utara Semenanjung Sulawesi Utara. Sejarahnya terentang dari cerita leluhur Toar dan Lumimuut, pembagian wilayah di Watu Pinawetengan, perjumpaan dengan bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda, hingga perlawanan besar di Danau Tondano. Artikel ini merangkum garis besarnya.
Arti nama Minahasa
Kata Minahasa dibentuk dari akar kata esa yang berarti “satu”, dengan awalan ma- dan sisipan -in-. Artinya kurang lebih “menjadi satu” atau “yang dipersatukan”. Nama ini merujuk pada persatuan kelompok-kelompok (walak) yang sebelumnya berdiri sendiri. Dalam sumber tertulis, nama Minahasa baru tercatat pada akhir abad ke-18, sekitar tahun 1789, dan muncul dalam perjanjian dengan Belanda pada 1790.
Leluhur dan Watu Pinawetengan
Menurut tradisi lisan, orang Minahasa adalah keturunan Toar dan Lumimuut (baca juga kisah lengkapnya di Legenda Toar dan Lumimuut). Keturunan mereka kemudian berkumpul di sebuah batu besar yang dikenal sebagai Watu Pinawetengan, “batu tempat pembagian”, di kaki Gunung Soputan, Kecamatan Tompaso. Di tempat inilah, menurut tuturan, para leluhur membagi wilayah dan bahasa di antara kelompok-kelompok Minahasa seperti Tonsea, Tombulu, dan Tontemboan. Waktu peristiwa ini tidak dapat dipastikan; sebagian tulisan menyebut abad ke-7, namun angka itu berasal dari tradisi, bukan catatan tertulis.
Walak: persekutuan wilayah
Kelompok-kelompok tersebut membentuk pusat kekuasaan yang disebut puak, kemudian walak. Setiap walak dipimpin oleh kepala walak dan memiliki wilayah sendiri. Sebelum abad ke-19, walak-walak ini merdeka secara politik dan tidak jarang saling berperang. Di kemudian hari datang pula kelompok lain seperti Tonsawang, Ponosakan, Pasan (Ratahan), dan Bantik, sehingga Minahasa memiliki beragam bahasa daerah: Tombulu, Tondano (Toulour), Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ratahan, Bantik, dan Ponosakan.
Kedatangan bangsa Eropa
Bangsa Portugis dan Spanyol tiba di perairan Sulawesi Utara pada abad ke-16. Misionaris Fransiskan Portugis mencatat beberapa orang yang dibaptis pada 1560-an. Spanyol kemudian menguasai benteng di Amurang dan berpengaruh di Minahasa, sampai akhirnya melepas klaimnya. Jejak masa ini masih terasa dalam bahasa Melayu Manado yang menyerap kata-kata Spanyol dan Portugis, misalnya kadera (kursi), forno (oven), dan sapatu (sepatu).
Perjanjian dengan VOC (1679)
Pada 10 Januari 1679, para kepala walak Minahasa membuat perjanjian persahabatan (verbond) dengan Kongsi Dagang Belanda (VOC). Perjanjian ini menjadi awal pengaruh Belanda yang panjang di Minahasa. Perjanjian lanjutan pada 10 September 1699 makin mengikat kepala-kepala walak kepada kepentingan dagang VOC, termasuk kewajiban menjual beras.
Perang Tondano (1807–1809)
Hubungan yang berat sebelah memicu perlawanan. Sumber sejarah lokal mencatat beberapa babak Perang Tondano sejak abad ke-17. Yang terbesar terjadi pada 1807–1809 di Minawanua, kampung benteng di tepi Danau Tondano. Para pemimpin seperti Tewu, Lonto Kamasi, Ukung Mamahit, Matulandi, Lumingkewas, dan Sarapung bertahan berbulan-bulan dari serangan pasukan Belanda. Benteng Minawanua jatuh pada 5 Agustus 1809. Kisah ini kini dikenang lewat Benteng Moraya di Desa Roong, Tondano Barat.
Masa kolonial dan Kekristenan
Kekuasaan Belanda dipulihkan pada 1817 dan berlangsung hingga 1949, dengan pemerintahan langsung sejak 1870. Sejak 1820-an, Nederlandsch Zendeling Genootschap (Lembaga Misi Belanda) aktif di Minahasa, dan menjelang 1860 sebagian besar penduduk telah memeluk agama Kristen. Sekolah-sekolah zending membuat banyak orang Minahasa cakap baca-tulis, sehingga kelak banyak yang bekerja sebagai guru, pegawai, dan tentara.
Minahasa hari ini
Kini wilayah Minahasa terbagi menjadi beberapa daerah: Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Kota Tomohon, Kota Manado, dan Kota Bitung. Warisan budayanya masih hidup dalam bahasa daerah, tradisi Mapalus, tari Kabasaran dan Maengket, musik Kolintang, serta semboyan Sitou Timou Tumou Tou, “manusia hidup untuk memanusiakan sesama”.
Punya catatan keluarga, foto lama, atau cerita tentang sejarah kampung Anda? Kirimkan ke Pustaka Minahasa agar ikut terarsip.

