PUSTAKAMINAHASA.ID — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memperingati Hari Kebudayaan 2026 di Atrium Manado Town Square (Mantos), Manado, pada Senin (19/10/2026). Peringatan yang mengusung tema nasional “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya” itu menjadi ajang pemerintah daerah menegaskan arah pemajuan kebudayaan di Bumi Nyiur Melambai, dari pelestarian tradisi hingga pemanfaatan budaya bagi ekonomi masyarakat.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus berhalangan hadir dan diwakili Wakil Gubernur Victor Mailangkay, yang membacakan sambutan gubernur di hadapan jajaran pejabat Pemprov Sulut, tokoh budaya, dan masyarakat. Hari Kebudayaan sendiri diperingati setiap 17 Oktober, merujuk pada lahirnya ketentuan lambang negara Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada 17 Oktober 1951.
Budaya sebagai Jati Diri, Bukan Sekadar Seremoni
Dalam sambutannya, Victor menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai peninggalan sejarah atau hiasan acara resmi. Menurutnya, budaya harus hidup dalam keseharian dan ikut membentuk karakter generasi muda. Ia menyebut budaya sebagai “jati diri bangsa yang harus terus kita rawat dan lestarikan.”
Pelestarian, kata dia, menuntut keterlibatan semua pihak: keluarga, komunitas adat, lembaga pendidikan, hingga pelaku seni. Langkah konkret yang disebut antara lain menjaga tradisi, mengajarkan bahasa daerah, mengembangkan kesenian lokal, dan menumbuhkan kecintaan pada budaya sejak usia dini.
Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif
Sambutan gubernur juga memaparkan capaian pencatatan warisan budaya. Seperti dilaporkan BeritaManado, Sulawesi Utara hingga September 2026 memiliki 75 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, 23 di antaranya ditetapkan tahun ini. Provinsi ini juga memiliki cagar budaya peringkat nasional, salah satunya kompleks Waruga Sawangan di Minahasa Utara. Kekayaan itu tersebar di tiga wilayah budaya utama: Bolaang Mongondow, Minahasa, dan Sangihe Talaud.
Pemprov Sulut mendorong budaya menjadi penggerak ekonomi kreatif, UMKM berbasis tradisi, dan pariwisata budaya, dengan catatan tetap menghormati keaslian tradisi. Pemerintah daerah menyatakan akan memperkuat perlindungan sosial bagi pekerja seni dan budaya melalui BPJS Ketenagakerjaan, meningkatkan sarana seperti gedung kesenian dan taman budaya, serta mendorong pelatihan dan sertifikasi tenaga kebudayaan. Para pemuda dan kreator konten juga diajak memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan budaya Sulut.
Relevansi bagi Minahasa dan Sulawesi Utara
Penekanan pada pengajaran bahasa daerah sangat penting bagi tanah Minahasa, yang memiliki ragam bahasa seperti Tombulu, Tondano (Toulour), Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ratahan, Bantik, dan Ponosakan. Sebagian di antaranya kian jarang dituturkan generasi muda. Pembaca dapat mengenal kosakata bahasa-bahasa tersebut melalui Kamus Bahasa Daerah dan halaman Bahasa di Pustaka Minahasa.
Bertambahnya WBTb Sulut juga mengingatkan bahwa pencatatan hanyalah langkah awal; tradisi perlu terus dipraktikkan agar tetap hidup. Penjelasan tentang ragam objek budaya Minahasa, mulai dari seni, adat istiadat, hingga ritus, dapat ditelusuri di rubrik 10 Objek Pemajuan Kebudayaan.
Dilansir dari BeritaManado dan sumber lainnya.
Sumber:
- BeritaManado – Hari Kebudayaan Sulut 2026, Yulius Selvanus Dorong Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif
- BeritaManado – Sulut Catat 75 Warisan Budaya Tak Benda, Yulius Selvanus Ajak Generasi Muda Jaga Tradisi
- Zonautara – Peringatan Hari Kebudayaan 2026, Wagub Sulut Ajak Generasi Muda Rawat Tradisi
- Berita Prioritas – Wagub Sulut: Kebudayaan Identitas Bangsa yang Harus Diwariskan

