Perempuan Minahasa era kolonial mengalami perubahan kedudukan yang besar: dari masyarakat yang relatif setara menuju tatanan kolonial yang menempatkan perempuan di ranah rumah tangga.
Masyarakat tradisional Minahasa dikenal relatif egaliter. Perempuan dapat memegang peran penting, misalnya sebagai Walian atau pemimpin ritual, dan aktif dalam pertanian serta kehidupan kampung. Kedatangan hukum, birokrasi, dan nilai kolonial membawa pergeseran. Artikel ini merangkum kajian Ponto, Tampake, dan Lauterboom (2024) dalam jurnal Endogami tentang domestifikasi sebagai bentuk perlawanan perempuan Minahasa.
1. Dari Tatanan Egaliter ke Patriarki Kolonial
Menurut kajian tersebut, sistem patriarki yang datang bersama kolonialisme mengubah tatanan sosial budaya Minahasa dan menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah. Hal ini paling terlihat dalam pendidikan. Anak laki-laki dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, sedangkan anak perempuan umumnya disiapkan untuk urusan rumah tangga dan jarang diberi kesempatan belajar lebih jauh.
Proses inilah yang disebut domestifikasi, yaitu pembatasan peran perempuan pada ranah rumah tangga semata.
2. Maria Walanda Maramis dan PIKAT
Tokoh penting dalam kisah ini adalah Maria Walanda Maramis, pahlawan nasional asal Minahasa. Ia mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) untuk membuka kesempatan pendidikan bagi perempuan.
Kurikulum PIKAT berpusat pada keterampilan rumah tangga, seperti memasak, menjahit, dan merawat keluarga. Sekilas, hal ini tampak memperkuat domestifikasi. Namun, menurut kajian Ponto dan rekan-rekannya, justru di situlah letak perlawanannya.
3. Domestifikasi sebagai Strategi Perlawanan
Para peneliti berpendapat bahwa perempuan Minahasa memanfaatkan ranah domestik sebagai pintu masuk. Melalui pendidikan rumah tangga, perempuan mendapatkan akses sekolah, keterampilan, dan organisasi. Dari sana mereka membangun kedudukan yang setara dengan laki-laki, meskipun masih berada dalam batasan patriarki kolonial.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran bahwa perlawanan tidak selalu tampil sebagai pemberontakan terbuka. Perlawanan juga dapat berlangsung secara senyap lewat strategi sehari-hari, misalnya mengubah ruang yang membatasi menjadi ruang untuk berkembang.
4. Warisan bagi Perempuan Minahasa Kini
Kisah perempuan Minahasa era kolonial menunjukkan bahwa nilai kesetaraan dalam budaya Minahasa tidak hilang begitu saja. Nilai itu dijaga dan diperjuangkan kembali oleh para perempuan, baik melalui peran adat seperti Walian maupun melalui pendidikan dan organisasi pada masa kolonial.
Hingga kini, nama Maria Walanda Maramis dikenang di Minahasa sebagai pelopor pendidikan perempuan. Peran perempuan dalam struktur adat lama dapat dibaca pada artikel Struktur Sosial Minahasa.
Baca juga: Nasionalisme dan Regionalisme Minahasa.
Rujukan
- Ponto, R.A.J., Tampake, T., & Lauterboom, M. (2024). Studi Histori-Feminis di Zaman Kolonial: Domestifikasi sebagai Resistensi Perempuan Minahasa. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 7(2), 353–367. Tautan artikel.
- Henley, D.E.F. (1996). Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies. Leiden: KITLV Press.


Pingback:Marie Thomas: Dokter Perempuan Pertama dari Minahasa
Pingback:Kisah Kinilow dan Tompaso: Perempuan di Garis Depan