Puncak Bulan Bahasa 2026: Kemendikdasmen Luncurkan 16 Produk Bahasa dan Sastra

PUSTAKAMINAHASA.ID — Jakarta menjadi tuan rumah Puncak Bulan Bahasa 2026 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar acara itu di Plaza Insan Berprestasi. Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kementerian meluncurkan 16 produk bahasa dan sastra serta dua program Wiyata Kinarya.

Ilustrasi Puncak Bulan Bahasa 2026: kios buku Balai Pustaka di Purwokerto
Ilustrasi — kios buku Balai Pustaka di Purwokerto. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Tema tahun ini adalah “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat”. Selain itu, peringatan tahun ini terasa istimewa karena menandai seabad bahasa Indonesia, 1926–2026. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membuka rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra sejak 1 Oktober 2026.

Enam Belas Produk dalam Puncak Bulan Bahasa 2026

Badan Bahasa merilis produk untuk berbagai kalangan. Untuk pelajar, lembaga ini menyiapkan Kamus Sinonim-Antonim dan Kamus Kata Asing Populer. Kemudian, Badan Bahasa menyusun 30 komik literasi dan numerasi untuk anak PAUD dan SD. Ada pula 25 komik alih wahana karya sastra.

Selain itu, Badan Bahasa menerbitkan 300 bahan bacaan bermutu bagi murid berkebutuhan khusus. Lembaga ini juga menyiapkan 50 bahan bacaan literasi jenjang C dan D. Bahkan, terdapat 130 buku terjemahan cerita anak berbahasa Indonesia dan 80 buku cerita anak berbahasa asing untuk diplomasi.

Di bidang kebijakan, kementerian merilis Peta Jalan serta Indeks Penginternasionalan Bahasa Indonesia. Daftar itu juga memuat Peraturan Mendikdasmen Nomor 24 Tahun 2026 tentang Indeks Pembangunan Kebahasaan. Rekomendasi Kongres Bahasa Daerah turut masuk sebagai produk resmi. Sementara itu, dua program Wiyata Kinarya yang Badan Bahasa perkenalkan adalah UKBI Adaptif dan Ramah Santun.

Penghargaan Sastra pada Puncak Bulan Bahasa 2026

Puncak Bulan Bahasa 2026 juga menjadi panggung Penghargaan Sastra Kemendikdasmen. Menurut Badan Bahasa, dewan juri menilai 336 karya dan memilih 23 nominasi. Akhirnya, lima karya meraih penghargaan tahun ini.

Nukila Amal menang di kategori novel lewat Ikhtiar yang Tak Benar-Benar. Selanjutnya, Raudal Tanjung Banua unggul di kategori kumpulan cerpen dengan Cerobong Tua Terus Mendera. Heru Joni Putra meraih kategori puisi melalui Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan. Kemudian, Sutejo menang di kategori esai lewat Sastra sebagai Simulator Pikiran dan Jiwa. Sementara itu, Iswadi Pratama unggul di kategori naskah drama dengan Bayangan Pucat Memudar.

Selain sastra, kementerian memberi apresiasi atas penggunaan bahasa Indonesia. Seputarpapua.com, Tempo.co, dan Tribunnews.com meraih predikat media daring terbaik. Kementerian Keuangan, Kementerian Sekretariat Negara, dan Kementerian PPN/Bappenas unggul dalam surat dinas. Provinsi Jawa Barat meraih predikat Adibahasa. Adapun Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat menerima penghargaan Mitra Strategis Pelestarian Bahasa Daerah.

Abdul Mu’ti berharap generasi muda makin “bangga menggunakan bahasa Indonesia” dalam berbagai kegiatan. Kemudian, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin mengajak semua pihak menggaungkan Trigatra Bangun Bahasa. Trigatra memuat tiga sikap. Pertama, mengutamakan bahasa Indonesia. Kedua, melestarikan bahasa daerah. Ketiga, menguasai bahasa asing.

Relevansi bagi Minahasa dan Sulawesi Utara

Pesan Puncak Bulan Bahasa 2026 dekat dengan kerja pelestarian di Sulawesi Utara. Gatra kedua, yakni melestarikan bahasa daerah, menyentuh langsung bahasa-bahasa Minahasa. Misalnya, Tombulu, Tondano, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ratahan, Bantik, dan Ponosakan masih membutuhkan penutur muda.

Rekomendasi Kongres Bahasa Daerah yang kini menjadi produk resmi juga patut menjadi pegangan. Pustaka Minahasa sebelumnya melaporkan tiga pilar rekomendasi kongres tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah di Sulut dapat menjadikannya acuan program revitalisasi.

Selain itu, pembaca dapat menelusuri ragam bahasa daerah Minahasa, kamus bahasa daerah, dan tradisi lisan di situs ini. Dengan demikian, semangat Trigatra tidak berhenti di Jakarta, tetapi juga hidup di wanua-wanua Minahasa.

Dilansir dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Kemendikdasmen) dan sumber lainnya.

Foto: Ilustrasi — kios buku Balai Pustaka di Purwokerto pada masa kolonial. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *