Catatan gambar: Gambar unggulan merupakan foto arsip paduan suara Tompaso yang digunakan sebagai ilustrasi konteks budaya Minahasa; bukan foto perang Kinilow–Tompaso, tokoh dalam cerita, atau bukti visual peristiwa yang dikisahkan.
Kisah Kinilow dan Tompaso adalah tradisi lisan Minahasa tentang perang antara Kenilo (Kinilow), pusat lama wilayah Tombulu, dan Tompaso di wilayah Tontemboan, yang berakhir ketika para perempuan Tompaso maju ke garis depan.
Kisah ini disebut-sebut tercatat dalam karya misionaris Nicolaas Graafland tentang Minahasa. Ceritanya memadukan nilai kehormatan, cara unik menghitung pasukan, dan keberanian kaum perempuan.
1. Penghinaan dan Terbakarnya Kenilo
Menurut tradisi, wilayah yang kini meliputi Tomohon, Tombariri, dan Kakaskasen dahulu termasuk dalam kesatuan besar bernama Kenilo, jantung wilayah Tombulu.
Suatu hari, putra kepala walak Tompaso melintasi Kenilo dalam perjalanan ke pesisir Wenang. Saat melewati rumah kepala walak Kenilo, ia meludah di depan halaman rumah itu. Perbuatan ini dianggap penghinaan besar. Pasukan Kenilo mengejarnya hingga ke Wenang dan membunuhnya.
Kepala walak Tompaso murka dan menyerbu Kenilo. Kebetulan sebagian besar warga Kenilo sedang berada di Wenang, sehingga kampung kosong dan habis terbakar. Dalam cerita rakyat, kabar itu pertama kali disampaikan oleh seekor burung kilo-kilo yang berputar-putar sambil berseru seakan berkata “Kenilo terbakar!”.
2. Menghitung Pasukan dengan Semut, Daun, dan Tanah
Warga Kenilo bertekad membalas. Untuk menggambarkan besarnya pasukan yang berkumpul, kisah ini menyebut tiga cara menghitung yang khas:
- Setiap prajurit mengambil seekor semut dari sebuah sarang besar. Semutnya habis, tetapi prajurit masih mengantre.
- Setiap prajurit memetik sehelai daun dari pohon beringin besar. Pohonnya gundul, tetapi pasukan masih berlebih.
- Setiap prajurit menumpuk segenggam tanah di satu titik, hingga konon membentuk dua bukit kecil.
Barisan berangkat diiringi bunyi gong dan tabuhan. Dikisahkan barisannya begitu panjang sehingga ketika barisan depan tiba di perbatasan Tompaso, barisan paling belakang masih di Kenilo. Gambaran berlebihan seperti ini adalah ciri khas tradisi lisan untuk menegaskan besarnya peristiwa.
3. Perempuan Tompaso di Garis Depan
Serbuan besar dari Kenilo menembus parit dan pagar bambu pertahanan Tompaso. Nyali para prajurit laki-laki Tompaso ciut, dan mereka mundur meninggalkan garis depan.
Di tengah kepanikan itu, para perempuan Tompaso, malu dan marah melihat kaum prianya mundur, maju mengambil alih pertahanan. Dengan tombak dan parang di tangan, mereka berdiri menantang pasukan Kenilo.
Keberanian ini menghentikan pertempuran. Pasukan Kenilo memilih mundur, karena adat dan harga diri seorang ksatria (waranei) melarang mengangkat senjata melawan barisan perempuan.
4. Pesan Kisah Kinilow dan Tompaso
Kisah ini menyimpan beberapa pelajaran. Penghinaan kecil dapat berbuntut panjang. Keberanian tidak hanya milik laki-laki. Etika perang pun pernah membatasi kekerasan. Peran perempuan dalam kisah ini sejalan dengan kedudukan perempuan Minahasa yang relatif setara, sebagaimana dibahas dalam artikel Perempuan Minahasa di Era Kolonial.
Baca juga: Paparangan Parepej dan Peta Persebaran Sub-Etnis Minahasa.
Disarikan dari tradisi lisan Minahasa; versi tertulisnya disebut tercatat dalam karya N. Graafland, De Minahassa (1867–1869).

