FTBI Bahasa Banjar 2026: Pelajar Balangan Raih Empat Penghargaan Tingkat Provinsi

PUSTAKAMINAHASA.ID — Kalimantan Selatan menutup rangkaian FTBI Bahasa Banjar tingkat provinsi 2026 dengan sederet capaian pelajar daerah. Festival Tunas Bahasa Ibu ini berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui balai bahasa.

Suasana Banjarmasin tempo dulu, ilustrasi berita FTBI Bahasa Banjar 2026 di Kalimantan Selatan
Ilustrasi — Suasana Banjarmasin, Kalimantan Selatan, April 1924. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Salah satu kontingen yang menonjol berasal dari Kabupaten Balangan. Kabupaten itu mengirim sepuluh pelajar, terdiri atas lima siswa SD dan lima siswa SMP. Hasilnya, kontingen Balangan membawa pulang empat penghargaan.

Lima Mata Lomba di FTBI Bahasa Banjar

Peserta FTBI Bahasa Banjar bertanding dalam lima mata lomba. Kelimanya adalah menulis cerpen, bercerita, komedi tunggal, pidato, dan membaca puisi. Semua lomba memakai bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar. Oleh karena itu, peserta harus menguasai kosakata, lafal, dan gaya tutur khas daerahnya.

Dari lima mata lomba itu, pelajar Balangan meraih empat gelar. Pertama, siswa SD Negeri Bungur menjadi juara 1 lomba puisi. Kedua, siswa SMP Negeri 3 Batumandi meraih juara 2 lomba pidato. Selain itu, siswa lain dari sekolah yang sama meraih juara 3 lomba puisi. Terakhir, siswa SD Islam Al Istiqamah menempati peringkat kelima lomba cerpen.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Balangan, Rafiul Amal, menjelaskan proses pemilihan peserta. Menurut dia, peserta menjalani seleksi berjenjang. Seleksi itu dimulai dari tingkat kecamatan, lalu kabupaten, hingga akhirnya provinsi.

Apresiasi Daerah di FTBI Bahasa Banjar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balangan, Abiji, menyambut capaian itu dengan rasa syukur. Ia menyebut prestasi tersebut sebagai “hasil kerja keras para peserta, guru pembina”. Ia juga berharap generasi muda terus melestarikan bahasa daerah dalam keseharian.

Di samping prestasi lomba, Balangan juga mendapat apresiasi sebagai kabupaten pendukung program Revitalisasi Bahasa Daerah. Bahkan, kabupaten itu turut mengirim peserta ke FTBI Bahasa Dayak Deah. Seluruh peserta Balangan di festival tersebut menerima piala, uang apresiasi, dan sertifikat.

Capaian ini memperlihatkan pola kerja yang rapi. Sekolah menyiapkan murid, guru membina, dan pemerintah daerah memberi dukungan. Dengan demikian, FTBI Bahasa Banjar bukan hanya ajang lomba, melainkan juga hasil ekosistem pelestarian bahasa.

Relevansi bagi Minahasa dan Sulawesi Utara

Praktik baik dari Kalimantan Selatan layak menjadi cermin bagi Sulawesi Utara. Minahasa memiliki beberapa bahasa daerah, antara lain Tombulu, Tondano, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ratahan, Bantik, dan Ponosakan. Namun, penutur mudanya terus berkurang. Karena itu, model seleksi berjenjang dari kecamatan hingga provinsi bisa membantu menjaring bibit penutur baru.

Selain itu, ragam lomba seperti komedi tunggal dan cerpen terbukti dekat dengan minat anak. Misalnya, sekolah di Tomohon atau Tondano dapat mengadaptasi format serupa untuk bahasa Tombulu dan Tondano. Upaya ini juga sejalan dengan rekomendasi Kongres Bahasa Daerah 2026 tentang pelindungan bahasa ibu.

Pembaca dapat mengenal bahasa-bahasa Minahasa lebih jauh di halaman Bahasa dan Kamus Bahasa Daerah. Sementara itu, cerita rakyat yang cocok untuk lomba bercerita tersedia di halaman Tradisi Lisan. Akhirnya, kerja bersama sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar bahasa ibu tetap hidup.

Dilansir dari Kalimantan Post dan sumber lainnya.

Foto: Ilustrasi — Suasana Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada April 1924. Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)


Sumber:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *