
Film ini bukan cuma bicara tentang Papua. Lebih dari itu, film ini mengajak kita melihat ulang satu hal penting: ketika pembangunan datang, apakah yang dilihat hanya tanah dan angka… atau juga manusia yang hidup di atasnya?
Sering kali ruang hidup dianggap sekadar lahan kosong. Padahal di sana ada kebun, sumber air, tempat bermain anak, jalur hidup masyarakat, cerita turun-temurun, dan rasa memiliki yang tidak bisa dihitung dengan proposal proyek.
Itu sebabnya film ini terasa relevan juga untuk banyak daerah lain, termasuk Minahasa.
Di Minahasa, tanah bukan cuma soal sertifikat. Ada kebun keluarga, warisan leluhur, ruang bersama, dan hubungan masyarakat dengan alam yang sudah lama terbentuk.
Maka ketika warga mempertanyakan arah pembangunan, itu tidak selalu berarti anti kemajuan.
Kadang mereka hanya sedang berkata: jangan bangun sesuatu dengan cara menghapus yang sudah hidup lebih dulu.
Papua dan Minahasa tentu punya konteks yang berbeda. Sejarah, politik, dan bebannya tidak sama. Tapi ada pertanyaan yang mirip: apakah masyarakat ikut menentukan masa depannya, atau hanya diminta menerima keputusan yang datang dari atas?
Film ini layak ditonton karena mengingatkan kita, kolonialisme hari ini kadang tidak selalu datang dengan wajah lama.
Kadang ia hadir lebih rapi, lebih halus, lewat bahasa pembangunan yang lupa mendengar.
Dan mungkin, kemajuan yang paling sehat adalah kemajuan yang tetap menghormati ruang hidup warganya.

