Ritual di Nimawanua: Saat Pemuda Adat Menjawab Panggilan Leluhur

PUSTAKA Minahasa – Di lereng sejuk Tomohon, ketika kabut pagi perlahan terangkat dari tanah yang diwariskan leluhur, gema nilai-nilai tua kembali dipanggil pulang. Selasa, 17 Maret 2026, menjadi hari ketika ingatan kolektif itu disusun ulang bukan sekadar peringatan, melainkan peneguhan jati diri.


Dalam momentum Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) dan ulang tahun ke-27 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Daerah Tomohon menjejakkan langkah di tanah adat Nimawanua Kakaskasen.

Di wilayah Komunitas Masyarakat Adat Tou Kinaskas, mereka menggelar upacara adat yang bukan sekadar ritual, melainkan bahasa sunyi yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.


Mengusung filosofi “Si Tou Mamuali Tou”, para pemuda adat seperti sedang membuka kembali lembaran tua yang diwariskan dalam petuah Nuwu i Tua. Sebuah ajaran yang sederhana namun dalam: manusia harus sungguh-sungguh menjadi manusia.

Baca juga: Pelajar Tomohon Bersatu Lestarikan Mahzani, IPPTPM: Investasi Budaya untuk Masa Depan


Ketua BPAN Tomohon, Belarmino Lapong, menyebut bahwa filosofi ini bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan. Menjadi manusia seutuhnya berarti merawat relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan semesta ciptaan Opo Empung.


Di tengah arus zaman yang kerap menjauhkan manusia dari akar, pesan itu terdengar seperti pengingat yang lirih namun tegas: selama darah Toar Lumimuut masih mengalir, maka adat bukan sekadar warisan, ia adalah identitas yang hidup.


Ritual yang dipimpin para tonaas Rinto Taroreh, Marten Rampengan, Jein Taroreh, dan Franky Wehantow mengalir dalam kekhidmatan. Setiap gerak, setiap mantra, seakan menghidupkan kembali dialog antara manusia dan alam, antara yang tampak dan yang tak kasatmata.


Di tempat itu, tanah bukan hanya pijakan, tetapi ibu yang harus dijaga. Alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan saudara yang harus dihormati. Pesan leluhur kembali ditegaskan: kerusakan yang datang kerap bermula dari lupa, lupa menghormati keseimbangan.


Ketua Dewan AMAN Sulawesi Utara, Matulandi Supit, melihat peristiwa ini sebagai lebih dari seremoni. Ini adalah upaya memaknai ulang tradisi Minahasa, sebuah keberanian generasi muda menembus stigma untuk menghidupkan kembali ritus yang telah ada jauh sebelum agama-agama modern hadir.


Dukungan pun mengalir dari Lembaga Adat Tombulu melalui Piet Pungus, serta dari Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur lewat Denny Pinontoan. Mereka melihat keterlibatan pemuda sebagai jembatan penting antara tradisi dan masa depan.


Pada akhirnya, peringatan ini bukan sekadar mengenang, melainkan merawat nyala. Pemuda adat Tomohon menegaskan bahwa adat bukan sesuatu yang usang untuk disimpan, melainkan api yang harus terus dijaga agar tetap menyala di tengah perubahan zaman.


Dan dari tanah Minahasa, sebuah pesan kembali bergema: menjadi manusia seutuhnya adalah perjalanan panjang yang dimulai dari menghormati akar, dan berakhir pada menjaga kehidupan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *