Ketika nyanyian berpindah dari kebun ke panggung, kata-katanya mungkin masih akrab. Yang berubah adalah orang yang mendengar, kesempatan untuk ikut bernyanyi, dan alasan orang berkumpul. Perubahan itu membantu kita memahami perjalanan Mahzani, tradisi vokal masyarakat Tombulu yang diteliti di Woloan dan Rurukan, Kota Tomohon. Kajian etnografi Jeane Angela Manus dan rekan-rekannya menelusuri hubungan nyanyian ini dengan Mapalus dan perkembangannya sebagai pertunjukan. Manus dkk., 2026

Apa itu Mahzani?
Profil Desa Wisata Woloan 1 Utara menuliskan nama ini sebagai Mah’zani dan mengaitkannya dengan kata Tombulu zani. Dalam konteks kesenian Tombulu yang diterangkan profil itu, istilah tersebut merujuk pada nyanyian atau musik vokal. Mahzani termasuk sastra lisan karena kata-katanya disampaikan melalui suara dan diwariskan melalui praktik bernyanyi. Cerita rakyat dan legenda merupakan bentuk tradisi lisan lain. Masing-masing dapat menyimpan ingatan bersama dengan cara yang berbeda. Profil Seni Tradisi Mahzani · UNESCO, Tradisi dan Ekspresi Lisan
Mahzani dalam lingkungan Mapalus
Penelitian di Woloan dan Rurukan mencatat bahwa Mahzani telah dinyanyikan lintas generasi dalam kegiatan Mapalus. Para peneliti menghubungkan berkurangnya pemakaian dalam kegiatan itu dengan perubahan cara hidup warga. Hubungan tersebut memberi konteks bagi lirik dan suara yang terdengar. Dalam kerja bersama, orang yang bernyanyi juga terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan mereka. Pada panggung, susunan acara dan kehadiran penonton membentuk pengalaman yang berbeda. Perubahan fungsi ini dapat ditelusuri di kedua lokasi penelitian tanpa menganggap bahwa semua desa Tombulu mengalami perubahan yang sama. Manus dkk., 2026
Membaca sastra lisan sebagai peristiwa
Pendekatan folklor memperhatikan apa yang terjadi saat sebuah tuturan disampaikan. Untuk sebuah nyanyian, teks dapat memberi tahu kata mana yang diulang. Rekaman dapat menunjukkan bagaimana pengulangan itu terdengar, kapan suara lain masuk, dan bagaimana penyanyi memberi isyarat. Keterangan dari peserta dapat menjelaskan kapan sebuah versi dianggap sesuai untuk dinyanyikan. Tiga jenis bukti itu menjawab pertanyaan yang berbeda dan sebaiknya disimpan bersama.
Arsip Minahasa juga memperlihatkan manfaat membedakan jenis sumber. Tontemboansche Teksten, terbit di Leiden pada 1907, memberi contoh cara menyandingkan teks, terjemahan, dan catatan. Koleksi itu merekam tuturan Tontemboan, sehingga di sini dipakai sebagai pembanding cara mendokumentasikan sastra lisan. Bukti mengenai Mahzani Tombulu di Woloan dan Rurukan berasal dari penelitian setempat. Pemisahan ini penting ketika sebuah perpustakaan digital mengelompokkan naskah, cerita rakyat, dan nyanyian dari berbagai komunitas Minahasa. Katalog Tontemboansche Teksten · Manus dkk., 2026
Dari panggung ke pewarisan antargenerasi

Pertunjukan memberi kesempatan kepada orang yang jarang mendengar Tombulu untuk mengenal bunyinya. Latihan memberi kesempatan yang berbeda. Penyanyi muda bisa mengulang bagian yang sulit, menanyakan arti kata, dan belajar kapan harus masuk. Kerangka pelestarian UNESCO menekankan keberlanjutan praktik dan ruang bagi komunitas untuk mengembangkan bentuk penyampaiannya. Dalam kasus Mahzani, dokumentasi dapat mengikuti kedua ruang itu dengan merekam penampilan serta percakapan tentang cara orang mempelajari lagu. UNESCO, Tradisi dan Ekspresi Lisan
Sebuah koleksi digital dapat menyandingkan rekaman yang disetujui penyanyi, transkripsi Tombulu, terjemahan Indonesia, serta penjelasan tentang tempat dan acara. Jika dua kelompok menyanyikan versi yang berbeda, setiap versi dapat diberi keterangan asal dan nama penutur atau kelompok sesuai persetujuan mereka. Catatan itu membantu pembaca memahami perbedaan sebagai bagian dari riwayat pemakaian nyanyian. Persetujuan juga dapat menentukan bahan mana yang boleh dipublikasikan dan mana yang tetap disimpan untuk komunitas.
Kesimpulan
Mahzani memberi kita cara mendengar perubahan sosial di Minahasa. Di Woloan dan Rurukan, perpindahan dari lingkungan kerja bersama ke pertunjukan mengubah siapa yang terlibat dan bagaimana nyanyian itu dipelajari. Pelestarian dapat menjaga hubungan antara suara, bahasa Tombulu, dan ingatan warga dengan menyediakan ruang untuk belajar serta mendokumentasikan versi yang mereka pilih untuk diwariskan.
Baca juga: Mahzani: Nyanyian Leluhur Tombulu yang Menyimpan Semangat Mapalus
Sumber
- Manus, Jeane Angela, Priscila Fitriasih Limbong, Turita Indah Setyani, dan Muhammad Yoesoef. 2026. “Songs of Mahzani of Woloan and Rukukan: From Ritual to Performance.” International Review of Humanities Studies 11(1), artikel 20.
- Kementerian Pariwisata. “Seni Tradisi Mahzani.” Profil Desa Wisata Woloan 1 Utara.
- Schwarz, J. A. T. 1907. Tontemboansche Teksten. Leiden, E. J. Brill. Entri katalog CiNii Books.
- UNESCO. “Oral Traditions and Expressions Including Language as a Vehicle of the Intangible Cultural Heritage.”


Pingback:Mengenal Bahasa Tombulu dan Jejak Sastranya
Pingback:Syair-Syair Minahasa dalam Arsip: Peta Sumber