Syair-Syair Minahasa dalam Arsip: Peta Sumber dari Abad ke-17 hingga Kini

Catatan gambar: Gambar unggulan berupa foto arsip paduan suara adat dari kawasan Tompaso sebagai ilustrasi tradisi nyanyian; bukan foto seluruh syair atau kegiatan yang tercatat dalam katalog sumber.

Syair Minahasa lahir dalam tuturan: dinyanyikan saat Mapalus, dilantunkan para Walian dalam upacara, dan diwariskan lewat tarian seperti Maengket. Sebagian di antaranya kemudian dicatat oleh pejabat kolonial, zendeling, dan peneliti, lalu tersimpan di perpustakaan di Indonesia dan Belanda.

Katalog ini memetakan sumber-sumber tersebut dari abad ke-17 hingga sekarang, lengkap dengan keterangan bahasa dan tautan ke salinan digital bila tersedia. Tujuannya sederhana: membantu pembaca, guru, dan peneliti mengetahui di mana syair-syair Minahasa dapat ditemukan.

Cara Membaca Katalog Ini

  • Sumber ditulis dengan nama pencatat, tahun, dan judul aslinya.
  • Bahasa menunjukkan bahasa daerah yang dicatat, misalnya Tombulu atau Tontemboan.
  • Akses menjelaskan apakah salinan digitalnya sudah dapat dibuka daring. Sebagian besar terbitan abad ke-19 masih tersimpan di perpustakaan dan belum didigitalkan secara terbuka.

Sebagian besar data terbitan abad ke-19 di bawah ini berasal dari bibliografi linguis N. Adriani (1925), De Minahasische talen, yang mendaftar puluhan terbitan tentang bahasa-bahasa Minahasa sejak 1841. Bibliografi ini dapat dibaca dalam terjemahan bahasa Inggris oleh David Mead (2020).

1. Abad ke-17: Nyanyian yang Diceritakan

Robertus Padtbrugge (1679), Beschrijving der zeden en gewoonten van de bewoners der Minahassa. Gubernur VOC di Maluku ini mencatat bahwa orang Minahasa menjaga sejarahnya lewat cerita dan “nyanyian kuno” (oude gezangen) yang mengisahkan kepahlawanan leluhur. Padtbrugge tidak menuliskan teks syairnya, tetapi catatannya menjadi kesaksian tertulis awal tentang peran nyanyian dalam ingatan bersama orang Minahasa.

Ulasan lengkap: Simpon dan Nyanyian Kuno dalam Catatan Padtbrugge.

2. 1840–1870: Syair Tombulu di Atas Kertas

Pada masa ini, bahasa Tombulu menjadi bahasa Minahasa yang paling banyak dituliskan. Adriani menyebut sastra Tombulu “selalu lebih unggul” dibandingkan sastra kelompok lain, tetapi juga mencatat bahwa teks-teks yang terbit kala itu “tidak disunting dengan cermat”.

TahunPencatat, judul, dan tempat terbitIsiBahasaAkses digital
±1843–1850N.Ph. Wilken, catatan teks maengketTeks maengket kuno dari para Walian Tombulu; penciptanya tidak diketahuiTombuluDikutip dalam Zonautara (2023)
1857S.A. de Lange & J.G.F. Riedel, “Proeve van Alfoersche Poëzij”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde VI, mulai hlm. 258Contoh puisi Alifuru (Minahasa)MinahasaPDF jilid lengkap di KITLV/Universitas Leiden
1863N.Ph. Wilken, “Bijdragen tot de Kennis van de Zeden en Gewoonten der Alfoeren in de Minahassa”, Mededeelingen NZG VII: 117–159, 289–332, 371–391Adat, nyanyian, cerita, dan asal-usul nama tempatTombuluGoogle Books (jilid VII)
1864N. Graafland, “Morgenzangen der Mapaloes van Tanawangko'”, Mededeelingen NZG VIII: 14–17Fragmen nyanyian pagi MapalusTombuluBelum ditemukan daring
1866N.Ph. Wilken (ed. G.K. Niemann), Bijdragen tot de Kennis der Alfoersche Taal in de Minahassa, Rotterdam: NZG16 cerita dan 24 teka-teki, dengan pengantar tata bahasaTombuluGoogle Books (salinan Perpustakaan Universitas Basel)
1869J.G.F. Riedel, Ijai jah wohoh pirah un aasaren woh raranihan ne Touw un Buluh, Batavia: Landsdrukkerij, 43 hlm.Kumpulan cerita dan nyanyian orang TombuluTombuluDapat diunduh di Google Books (salinan British Library)
1870F.S.A. de Clercq, “Vijf-en-veertig Tounseasche Raadsels met Vertaling en Aanteekeningen”, Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië seri ke-3, 4(II): 237–24545 teka-teki dengan terjemahan; diikuti perbandingan dialek Tombulu–Tonsea (hlm. 246–255)TonseaBelum ditemukan daring
1871“Tatambakan ne Tounsea of Tounseasche liederen”, Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië seri ke-3, jilid 5, hlm. 23Lagu-lagu Tonsea; nama penulis terpotong di daftar isi (“Door de C…”), kemungkinan de ClercqTonseaGoogle Books (pratinjau terbatas)

Geser tabel ke samping pada layar kecil.

Beberapa catatan tentang tabel ini:

  • Satu sumber baru. Lagu-lagu Tonsea tahun 1871 tidak tercantum dalam bibliografi Adriani. Sumber ini ditemukan lewat daftar isi Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, sehingga isi dan penulisnya masih perlu diperiksa langsung.
  • Koreksi halaman. Adriani mencatat terbitan 1857 di “hlm. 528–267”, yang jelas salah cetak. Daftar isi jilid VI menunjukkan “Proeve van alfoersche poëzij” dimulai pada hlm. 258.
  • Katalog yang keliru. Google Books mengelompokkan buku Riedel 1869 ke dalam “bahasa Bolaang Mongondow”. Itu keliru, karena judulnya sendiri menyebut Touw un Buluh, yaitu orang Tombulu.

Ada satu petunjuk menarik dalam judul Riedel tahun 1869. Judul itu menyebut dua jenis tuturan: aasaren dan raranihan. Aasaren dikenal sebagai sebutan untuk kisah atau riwayat, seperti dalam judul Aasaren Tuah. Karena itu, raranihan kemungkinan besar merujuk pada nyanyian. Kata ini tampaknya sekerabat dengan raranian, salah satu sebutan lain untuk tradisi Mahzani. Jika benar, buku ini termasuk kumpulan tertulis awal syair Mahzani. Dugaan ini masih perlu diuji dengan membaca isi bukunya bersama penutur Tombulu.

Ulasan tentang Graafland ada dalam artikel Graafland dan Bahasa Tombulu. Sebagian jilid majalah Mededeelingen NZG, misalnya jilid tahun 1892, sudah tersedia di Delpher. Karena itu, jilid VIII (1864) yang memuat nyanyian Mapalus Graafland layak dicari di sana.

3. 1890–1910: Koleksi Teks Tontemboan dan Doa Alifuru

Menjelang akhir abad ke-19, perhatian bergeser ke bahasa Tontemboan, terutama berkat kerja zendeling J.A.T. Schwarz di Sonder.

  • J.A.T. Schwarz (1893–1894), Paejaan wo Pawasaan, dua bagian. Teks-teks berbahasa Tontemboan.
  • H.H. Juynboll (1895), Pakĕwa-sche Teksten. Teks dalam bahasa Tompakewa, nama lama untuk Tontemboan.
  • A. Wintjes (1898), Alfoersche Gebeden. Doa-doa Alifuru (Minahasa).
  • J.A.T. Schwarz (1907), Tontemboansche Teksten, tiga jilid: teks, terjemahan, dan catatan. Inilah koleksi teks tradisional Minahasa terbesar dari masa kolonial. Sudah didigitalkan dan dapat ditelusuri di Delpher serta Google Books.
  • J.A.T. Schwarz (1908), Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek. Kamus pendamping untuk membaca teks-teks di atas. Tersedia daring di Bayerische Staatsbibliothek (MDZ), lisensi CC BY-NC-SA 4.0.

4. Kajian Modern yang Dapat Dibaca Terbuka

5. Perpustakaan yang Masih Hidup: Para Maestro

Sumber syair terpenting bukan hanya buku, tetapi juga orang yang masih menyanyikannya. Salah satunya adalah Yulin “Nek’ Lin” Pangemanan dari Kumelembuai, Tomohon. Lahir pada 1939, ia belajar maengket sejak usia 17 tahun dan menerima penghargaan Maestro Seni Tradisi dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia 2023. Ia menguasai maengket, mahzani (juga disebut zazanian atau raranian), dan marani.

Repertoarnya mencakup lagu-lagu karya pencipta yang dikenal, seperti “Matuari Kande’en Si Endo Wo Si Lolo’en” karya Melo Runtuwalian (1948), “Pisok Rumengan” karya Corneles Kaunang (1956), dan “Mangemo” karya Benyamin Posuma (1965). Karena penciptanya diketahui, lirik lagu-lagu ini sebaiknya didokumentasikan dan disebarkan dengan izin keluarga atau sanggar pemiliknya.

6. Catatan untuk Peneliti dan Pembaca

  • Teks lama perlu dibaca bersama penutur. Ejaan abad ke-19 memakai kaidah Belanda, misalnya oe untuk u, dan sering tidak konsisten. Membaca ulang bersama penutur asli membantu memulihkan bunyi dan makna aslinya.
  • Perhatikan sudut pandang pencatat. Para pencatat adalah pejabat atau zendeling dengan tujuan tertentu. Pilihan teks, terjemahan, dan keterangan mereka dipengaruhi oleh tujuan itu.
  • Hormati pemilik tradisi. Syair adat, terutama yang terkait upacara, sebaiknya didokumentasikan dengan persetujuan komunitas, termasuk keputusan tentang bagian mana yang boleh dipublikasikan.
  • Bantu melengkapi katalog. Banyak terbitan dalam katalog ini belum tersedia daring. Jika Anda mengetahui salinan digital atau memiliki rekaman dan teks syair dari kampung Anda, silakan berbagi lewat halaman Dukung Kami.

Baca juga: Mengenal Bahasa Tombulu dan Jejak Sastranya · Jejak Malesung di Negeri Belanda · Katalog Paper dan Jurnal Ilmiah tentang Minahasa

Sumber Utama Katalog

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *