Simpon dan Nyanyian Kuno: Spiritualitas Minahasa Abad ke-17 dalam Catatan Padtbrugge

Catatan Padtbrugge adalah uraian tentang adat istiadat penduduk Minahasa yang ditulis Robertus Padtbrugge, Gubernur VOC di Maluku, setelah kunjungannya ke Manado dan pedalaman Minahasa pada akhir 1678 hingga awal 1679.

Kunjungan Padtbrugge terkenal karena menghasilkan kontrak dengan para kepala Walak pada 10 Januari 1679. Namun, ia juga meninggalkan uraian etnografis yang dikenal dengan judul Beschrijving der zeden en gewoonten van de bewoners der Minahassa (“Uraian adat dan kebiasaan penduduk Minahasa”). Uraian ini menjadi salah satu gambaran tertulis tertua tentang kehidupan rohani orang Minahasa sebelum zending Kristen masuk ke pedalaman.

1. Seruan Simpon dan Persembahan Tanpa Patung

Ringkasan atas catatan Padtbrugge menyebutkan bahwa orang Minahasa kala itu kerap menyerukan kata Simpon. Istilah ini kemungkinan merupakan cara telinga Belanda menangkap sebutan lokal seperti Empung. Simpon tidak hanya menunjuk Yang Ilahi, tetapi juga dikaitkan dengan hal-hal yang jujur, adil, dan patut.

Padtbrugge juga digambarkan terkesan karena penduduk tidak menyembah patung. Sebagai tempat penghormatan, warga memagari sebidang tanah terbuka yang ditanami bunga dan tanaman tertentu. Di tengahnya berdiri panggung bambu kecil untuk meletakkan hasil panen pertama sebagai tanda syukur.

Ada pula kebiasaan sebelum makan: mengambil beberapa butir nasi dengan ujung jari, meletakkannya di atas lauk, lalu menyerukan “Simpon”. Hal serupa dilakukan sebelum minum saguer, yaitu dengan menuangkan sedikit nira ke tanah. Gambaran ini sejalan dengan keyakinan pada Empung Wailan Wangko dalam kosmologi Minahasa.

2. Pandangan tentang Benda Langit dan Burung Pertanda

Salah satu bagian menarik adalah percakapan Padtbrugge dengan seorang kepala adat dari Tomohon (dalam ejaan lama Tomon). Menurut ringkasan catatan itu, sang kepala adat menjelaskan bahwa matahari, bulan, dan bintang bukanlah pencipta, melainkan benda-benda di langit. Bulan bahkan disebut sebagai “istri matahari”.

Catatan itu juga menyebut dua burung pertanda: burung kecil yang berbunyi di siang hari sebagai pembawa tanda baik, dan burung hitam besar di malam hari sebagai penanda bahaya. Kebiasaan membaca tanda dari burung ini berlanjut dalam tradisi burung Manguni.

3. Sejarah yang Dinyanyikan

Padtbrugge juga menyaksikan bagaimana orang Minahasa merawat sejarahnya tanpa aksara. Ingatan bersama dijaga melalui penuturan cerita (vertellingen) dan nyanyian-nyanyian kuno (oude gezangen).

Dalam nyanyian itu, kisah kepahlawanan leluhur dilantunkan berulang-ulang. Menurut ringkasan catatannya, lagu-lagu tersebut menanamkan harga diri kepada generasi muda: jangan rela diperlakukan secara hina, dan siap membela martabat kampung. Tradisi bernyanyi untuk mengingat sejarah ini berkerabat dengan sastra lisan seperti Mahzani.

4. Membaca Catatan Padtbrugge secara Kritis

Catatan Padtbrugge sangat berharga karena ditulis pada abad ke-17. Namun, ia ditulis oleh seorang pejabat VOC yang dibantu juru bahasa, sehingga istilah lokal dapat tercatat dengan ejaan atau makna yang bergeser. Padtbrugge juga punya kepentingan politik dalam membangun hubungan dengan para kepala Walak. Karena itu, catatannya paling baik dibaca bersama tradisi lisan dan kajian bahasa daerah.

Baca juga: Minahasa dalam Arsip dan Literatur Kolonial Belanda dan Kontrak VOC 1679 hingga Perang Minahasa.

Rujukan

  1. Padtbrugge, R. (1679). Beschrijving der zeden en gewoonten van de bewoners der Minahassa. Diterbitkan kemudian dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië.
  2. Schouten, M.J.C. (1998). Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1677–1983. Leiden: KITLV Press.

One Comment

  1. Pingback:Syair-Syair Minahasa dalam Arsip: Peta Sumber

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *